Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

BBPPMPV/BPPMPV Harus Cetak Agen Perubahan di Lembaga Pendidikan Vokasi

04 Oktober 2020 02:53:00Kategori : Berita   Setditjen Diksi
BBPPMPV/BPPMPV Harus Cetak Agen Perubahan di Lembaga Pendidikan Vokasi
BBPPMPV/BPPMPV Harus Cetak Agen Perubahan di Lembaga Pendidikan Vokasi

Yogyakarta, Ditjen Diksi - Menengok peran penting Balai Besar/Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV/BPPMPV) yang berada di hulu untuk menyiapkan dan menguatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan vokasi, Kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi bekerja sama dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyelenggarakan program “Workshop Penguatan Ekosistem SMK melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan” yang diikuti oleh BBPPMPV/ BPPMPV, kepala sekolah menengah kejuruan (SMK),  perwakilan dari Direktorat Mitras DUDI, dan pendidikan tinggi mitra Ditjen Pendidikan Vokasi di Kaliurang, Yogyakarta (30/9). 

Kerja sama ini dilakukan dengan tujuan untuk mendukung penciptaan ekosistem pendidikan yang positif dalam rangka menyiapkan peserta didik SMK yang berkarakter dan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Adapun dengan terselenggaranya kegiatan ini diharapkan dapat menginternalisasi tugas dan tanggung jawab BBPPMPV/ BPPMPV sebagai pemimpin lembaga yang berfungsi untuk meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan vokasi, serta kepala sekolah SMK untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi lulusan yang memiliki karakter budaya kerja yang baik dan berkompetensi unggul melalui pengembangan ekosistem yang lebih baik.

Dalam kesempatan ini, Wikan Sakarinto selaku Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi menjelaskan peran penting yang diemban oleh BBPPMPV/BPPPMPV sebagai kawah candradimuka bagi para pendidik dan tenaga kependidikan sekolah vokasi. “Kepala BBPMPV/BPPMPV harus memiliki visi dan pola pikir sebagai agen perubahan agar dapat menjadi motor penggerak di lembaganya dalam menciptakan agen perubahan di lembaganya maupun di lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah menengah kejuruan,” tegas Wikan. 

Wikan meyakini bahwa perubahan mindset yang revolusioner selayaknya seorang CEO perusahaan besar yang terbuka akan perubahan sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan laju perkembangan industri yang bergerak sangat cepat. “Agar nantinya proses ‘link and match’ antara satuan pendidikan vokasi dengan dunia industri dapat berjalan sustain dan selaras, maka peran para pemimpin kepala balai maupun SMK yang memiliki visi dan mindset selayaknya seorang CEO menjadi sangat penting,” ujarnya. 

Karena dengan perkembangan industri 4.0, bukan hanya hard skill yang menjadi keunggulan seorang calon tenaga kerja, namun juga kemampuan masing-masing individu dalam beradaptasi sehingga pendidikan karakter atau soft skill sangatlah penting ke depannya. Untuk itu, sumber daya tenaga pengajar harus memahami betul bagaimana konsep pendidikan karakter yang bisa diterapkan ke peserta didik. “Kepala sekolah juga harus memiliki karakter yang kuat sebagai pembangun yang mencakup fungsi sebagai motivator, inovator, organizing, dan controlling dalam pelaksanaan pembelajaran di SMK,” jelas Wikan.

Wikan pun mengapresiasi kerja sama antara Ditjen Vokasi dengan GSM dalam menyelenggarakan workshop ini yang merupakan bentuk sinergitas antara pemerintahan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. “Hal ini menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk mendorong perubahan ekosistem pendidikan yang mendukung terwujudnya ‘link and match‘ antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri,” tegasnya.

GSM sendiri merupakan gerakan perubahan dari akar rumput bersama guru dan masyarakat untuk mentrasformasi sekolah menjadi tempat yang dirindu siswa untuk mengeluarkan bakat, passion, penalaran, dan talenta terbaik mereka dengan pendidikan yang berdasarkan kodrat kebutuhan dan kenyataan. Gerakan ini mempromosikan dan membangun kembali kesadaran guru-guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal keterampilan hidup agar kelak anak-anak bergairah menjadi pembelajar mandiri yang sukses. 

Menurut Muhammad Nur Rizal selaku pendiri GSM, perubahan mindset pendidik dan pemangku kepentingan dunia pendidikan terhadap sekolah sangatlah penting, mengingat perubahan dan perkembangan zaman yang terus bergerak cepat. “Dunia sudah berubah dengan cepat dan tak pasti. Maka, kita juga harus berubah, dan perubahan itu tidak bisa berjalan sendirian. Kita bersama tak rela anak kita menjadi buruh di negerinya sendiri,” ungkapnya.

Kerja sama antara gerakan akar rumput dan pemangku kepentingan yang telah dirintis sejak September 2014 ini telah menyebarkan pengaruh ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, Jombang, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. GSM sejauh ini juga telah berhasil meningkatkan kualitas guru serta ekosistem pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran. Rizal berharap, kegiatan kerja sama ini tidak hanya berhenti di permukaan, tetapi dapat memantik proses perubahan yang lebih mendasar, yakni mengubah haluan kebijakan, budaya, dan sistem pendidikan yang tertinggal. (Diksi/TM/AP)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.