Ini lho, Jurusan APHP dan Prospek Kerjanya!

Ini lho, Jurusan APHP dan Prospek Kerjanya!

Malang, Ditjen Diksi - Agribisnis pengolahan hasil pertanian atau biasa disingkat dengan APHP merupakan kompetensi keahlian yang mempelajari bagaimana pengolahan hasil tani hingga menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual tinggi, termasuk bagaimana penjualan produk tersebut. Di Indonesia, kompetensi keahlian ini sebenarnya sangat diperlukan. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang kaya akan potensi hasil pertanian.

 

Sayangnya, kompetensi bidang APHP cenderung kalah pamor. Jika melihat laporan data pokok pendidikan (Dapodik) 2021, profil lulusan SMK di Indonesia lebih didominasi dari bidang keahlian teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi dan rekayasa. Padahal, peluang dan masa depan APHP juga cukup menjanjikan.

 

“Lulusan APHP itu bisa bekerja di industri pertanian, pengolahan makanan, atau berwirausaha sendiri. Kalau siswa akan melanjutkan juga sangat bisa,” kata Kepala Program Kompetensi Keahlian APHP SMKN 1 Kota Malang, Jawa Timur, Umi Nur Arifah.

 

Lalu seperti apa sebenarnya kompetensi keahlian APHP ini? Menurut Umi, meski terkait pertanian, tetapi APHP tidak melulu membahas cara menanam atau menjadi petani. Akan tetapi, mempelajari juga bagaimana hasil tani tersebut (herbal, ternak, tanaman pangan, dan sebagainya) diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual tinggi. APPH juga membahas bagaimana penjualan produk tersebut.

 

“Jadi, sangat menyenangkan sebenarnya karena para siswa tahu cara menanam dan mengembangkan pertanian yang menguntungkan. Selain itu, juga mampu menciptakan dan memasarkan hasil produk pertanian itu sendiri,” terang Umi.

 

Di jurusan ini, soft skills dan hard skills siswa akan diasah. Untuk hard skills misalnya, terkait dengan berbagai teknik dan cara pengolahan hasil pertanian, seperti fermentasi, suhu tinggi, dan suhu rendah, hingga menjadi produk. Atau, belajar bagaimana pengolahan pascapanen agar produk panen lebih baik, awet, dan sebagainya.

 

Sementara soft skills berkaitan dengan kewirausahaan, pemasaran, dan kreativitas siswa. Para siswa, lanjut Umi, juga akan mendapatkan materi soal kewirausahaan dan praktik pengolahan hasil pertanian. Misalnya, bagaimana mengolah talas menjadi aneka kue kering sehingga nilai jual umbi talas menjadi lebih tinggi.

 

“Kalau di SMKN 1 Kota Malang ini kami memproduksi jamu kunyit asem. Itu juga laku sekali,” jelas Umi.

 

Dengan kompetensi yang diajarkan tersebut, setelah lulus siswa memiliki cukup bekal untuk bekerja ataupun untuk berwirausaha. Jadi, masih kurang tertarik dengan APHP? (Diksi/Nan/AP/NA)