Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

Kekayaan Inspirasi dalam Balutan ‘Cerita Vokasi’

03 Agustus 2022 17:21:00Kategori : Berita  
Kekayaan Inspirasi dalam Balutan ‘Cerita Vokasi’

Surabaya, Ditjen Vokasi – Vokasi kini tengah menjadi tren karena terus mencuri perhatian masyarakat, usai pemerintah gencar merevitalisasi pendidikan vokasi, baik jenjang sekolah kejuruan, perguruan tinggi vokasi, maupun lembaga kursus dan pelatihan. Salah satu yang membuat vokasi kian mendapat perhatian masyarakat, yakni melalui berbagai kisah inspirasi yang dibagikan oleh para lulusannya.

 

Contohnya datang dari Rahma. Sosok perempuan alumni SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus, Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak turut membagikan kisahnya hingga menapaki karier sebagai iOS developer di sebuah perusahaan software terkemuka di Indonesia.

 

Ketertarikan Rahma bermula dari acara kunjungan yang diadakan pihak sekolah ke industri. “Acara visiting ini memotivasi saya terjun ke industri bidang IT. Saya menyukai bidang ini karena mempelajari development maupun jaringan, serta suka mobile app development karena memudahkan aktivitas,” ujarnya saat talkshow “Cerita Vokasi” dalam ajang Mahakarya Vokasi bertajuk “Vokasiland: Road to Hakteknas 2022” yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 28-31 Juli 2022 lalu.

 

Menyelami bidang IT memang memiliki tantangan tersendiri bagi Rahma. Pasalnya, stigma perempuan tidak perlu pendidikan tinggi begitu melekat dalam budaya di daerahnya. “15 tahun diminta untuk menikah saja. Kok, begini? Namun, semua itu mengubah pemikiran saya setelah masuk SMK. Ternyata, perempuan bisa menghasilkan produk tanpa dipandang dari sisi gender,” tuturnya.

 

Rahma pun berkisah saat dirinya bekerja pernah diberi tugas yang tidak semestinya karena menganggap kasihan dirinya seorang perempuan. “Padahal, kita bisa mengerjakan. Saya langsung bilang ke manajer, kenapa dibedakan?” kata sosok dara yang mengaku telah bekerja sekitar 3 tahun ini.

 

Apa yang membuat dirinya menjadi saat ini, bagi Rahma, tak lepas dari masa studi di SMK yang amat menyenangkan. “Menyenangkan levelnya 100. Semua teman dan guru mau diajak diskusi serta lingkungan sekolah juga mendukung,” jelasnya.

 

Selain Rahma, Kisah senada juga dibagikan oleh Risa Maharani, lulusan SMK NU Banat Kudus, Jurusan Tata Busana. Selain terus berkreasi dan memasarkan hasil desain fashion sendiri, Risa kerap melakukan sharing dengan siswa SMK.

 

Lantas, bagaimana kisahnya hingga kini tertarik ke dunia fashion? Risa mengaku, dirinya juga tidak terpikirkan untuk masuk ke dunia fashion sejak kecil. “Saya tergolong agak nakal hingga orang tua menyarankan sekolah agama,” ujarnya memulai kisah.

 

Entah mengapa, secara tak sengaja, saat mendaftar ke sekolah agama mendadak parkiran penuh. Alhasil, berpindahlah ke parkiran sebelahnya yang ternyata SMK NU Banat Kudus. “Bunda malah menyarankan ke Banat hingga masuklah ke dunia fashion,” kisah Risa.

 

Mengaku sejak kecil menyukai gambar mural, masuk SMK membuat pikirannya terbuka seputar bidang fashion. “Fashion bukan sekadar mendesain baju, melainkan membuka pikiran,” jelas Risa.

 

Menurut Risa, jurusan tata busana di SMK bukanlah hanya belajar menjahit. “Akan tetapi, kita harus bisa membaca tren, belajar make up, modeling, hingga fotografi,” terangnya.

 

Kepiawaian Risa di bidang ini pun mendapat apresiasi kala dirinya mengikuti lomba yang digelar brand ternama Zoya, hingga meraih juara pertama di usianya yang baru 18 tahun. “Bermula dari sinilah lantas saya bisa menggelar pameran di Hong Kong, lalu dikontrak Zoya selama 1 tahun,” bebernya hingga meraih royalti per bulan sekitar Rp19 juta.

 

Inspirasi Sang Pelestari Seni

 

Selain cerita alumni SMK, kisah inspirasi lainnya hadir dari sosok guru SMKN 12 Surabaya nan enerjik, Abing. Pendidik yang sempat viral di media sosial via sajian tarian di kelas ini mengaku dirinya terpanggil untuk melestarikan seni tari negeri sendiri. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan seni tari. Kita tidak boleh melupakan sejarah Indonesia,” tegasnya.

 

Bagaimana Abing mengajarkan seni ini kepada anak didiknya? Menurutnya, banyak siswa baru yang tidak bisa menari sama sekali hingga harus memulai pelajaran dari nol. “Guru harus membuat anak suka dan nyaman terlebih dahulu. Awalnya kenal, lalu pasti anak akan mencari tahu. Setelah tahu, akan terus mencari dan suka, hingga cinta,” terangnya.

 

Abing menambahkan, dengan memberi kebebasan siswa berekspresi, mereka akan mencapai tujuan dengan passion masing-masing. “Takutlah dengan dirimu sendiri, kita tidak tahu akan seperti apa nantinya. Jangan takut dengan tuntutan siapa pun, takutlah dengan kodratmu,” ujarnya.

 

Menurut Abing, apa yang disajikan pendidikan seni tari ini juga tidak terlepas dari perkembangan teknologi terkini yang harus disosialisasikan melalui ragam media sosial. “Kita telah membuat untuk pasar sekarang. Kenapa cuma 53 detik? Untuk kalangan sekarang itu akan disukai. Berkarya memanfaatkan teknologi, tetapi tidak melupakan akar rumput sejarahnya,” terangnya.

 

Selain itu, kunci untuk mendidik bagi diri Abing tak lepas dari menjalin kedekatan dengan para siswanya. “Jadi, benar-benar harus telaten menggali potensi anak didik. Anak-anak juga tidak pernah memanggil Pak, melainkan Mas. Saya ingin menjadi teman anak dalam mendidik,” pungkasnya.

Sukses terus, Pak Guru! (Diksi/AP/NA)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.