Logo

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi
(Ditjen Vokasi).

Jl. Jenderal Sudirman Gedung E Lantai III Senayan, Jakarta 10270
vokasi@kemdikbud.go.id

Lihat di Google Maps
Profil Kami
Berita
Gulir Ke Bawah
Cari

Pendidikan Vokasi Harus Libatkan DUDI Sejak Awal

08 Desember 2020 13:04:00Kategori : Berita   Setditjen Diksi
Pendidikan Vokasi Harus Libatkan DUDI Sejak Awal
Pendidikan Vokasi Harus Libatkan DUDI Sejak Awal
Pendidikan Vokasi Harus Libatkan DUDI Sejak Awal
Pendidikan Vokasi Harus Libatkan DUDI Sejak Awal

Wonosari, Ditjen Diksi – Berlokasi di SMKN 1 Gunung Kidul, Yogyakarta, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan tema “Strategi Meningkatkan Kemitraan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Guna Mengoptimalkan Program Sambung-suai” pada Senin (7/12). Dalam arahannya, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan bahwa sambung-suai antara vokasi dan DUDI harus dimulai sejak awal untuk menjawab kebutuhan DUDI yang terus berkembang.

“Konsep penyelenggaraan vokasi harus ber-mindsetstart from the end’ atau berawal dari apa yang menjadi kebutuhan. Maka, itulah yang kita siapkan bersama dengan DUDI sejak awal. Kita susun kurikulum bersama, diselenggarakan bersama, dan komitmen diserap bersama agar lulusan vokasi, khususnya SMK benar-benar konkret terserap oleh DUDI,” tutur Wikan.

Pada kesempatan tersebut, Wikan juga menyampaikan program inovasi Merdeka Vokasi, yakni SMK-D2 Jalur Cepat, yang memberikan fleksibilitas peserta didik untuk merdeka belajar, tapi tetap memiliki kompetensi soft skill, hard skill, dan karakter yang istimewa. Program ini juga terintegrasi dengan perguruan tinggi vokasi dan DUDI pendamping sejak semester pertama di SMK. 

Selain itu, Wikan juga berharap agar para pendidik dapat membawa proyek riil dari DUDI ke kelas-kelas vokasi. Artinya, penyelenggaraan vokasi saat ini membuka pintu seluas-luasnya bagi DUDI untuk berkontribusi dalam pengembangan vokasi di Indonesia. Terlebih, adanya dukungan supertax deduction bagi DUDI yang memiliki concern untuk pengembangan vokasi.

“Konsep PBL, project based learning, adalah kunci siswa untuk benar-benar tahu seperti apa dunia dan budaya kerja. Dengan proyek yang dilakukan siswa, lalu disupervisi dan dinilai oleh DUDI akan memberi gambaran nyata agar siswa siap pasca-pembelajaran harus menyiapkan diri seperti apa,” terang Wikan.

 

Kerja Sama dan Pemberdayaan

Dirjen Wikan menjelaskan, selain untuk DUDI, pemberdayaan pendidikan vokasi juga diharapkan dapat berkontribusi dalam aspek kehidupan kemasyarakatan. Misalnya untuk konten pembelajaran Kompetensi Keahlian Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran serta Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga yang dapat diintegrasikan sebagai tenaga pendamping pengelolaan dana desa. Pasalnya, hampir setiap desa membutuhkan tenaga tersebut, tapi terkendala SDM yang kompeten. Mengapa bisa mengajak SMK? “Karena banyak SMK telah memiliki lisensi sebagai Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1), yang artinya merupakan representasi dari pengakuan secara profesional terhadap kompetensi guru kejuruan dan siswa kejuruan,” ujarnya. 

Di samping itu, peluang kerja sama sangat mungkin untuk dilakukan dengan menggandeng SMK, khususnya jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran serta Akuntansi dan Keuangan Lembaga maupun jurusan lain yang terkait untuk membantu mengembangkan program, mengelola, dan menyusun dokumen maupun pelaporan keuangan sesuai standar. Kerja sama tersebut bisa dalam bentuk pemagangan, memberi pekerjaan, pemberian pelatihan, dan lain sebagainya. Dengan adanya kerja sama tersebut, diharapkan akan terwujud simbiosis mutualisme. Kepala desa terbantu oleh tenaga yang terampil, sedangkan para siswa SMK dapat memperoleh tempat praktik kerja, sekaligus mengasah kompetensinya.

 

Kunjungan ke SMKN 2 Gunung Kidul

Selain memberikan arahan pada FGD, Dirjen Wikan juga berkesempatan meninjau proses pembangunan gedung dan fasilitas pembelajaran, termasuk laboratorium di SMKN 2 Gunung Kidul, yang pada tahun ini berhasil meraih predikat sebagai SMK CoE (Center of Excellence) atau SMK Pusat Keunggulan. SMK ini merupakan salah satu dari 476 SMK di 34 provinsi di Indonesia yang mendapatkan bantuan dana dalam rangka penguatan sektor spesialisasi prioritas dengan total bantuan telah disalurkan sebesar Rp1,2 triliun. 

Wikan pun mengapresiasi inisiatif kerja sama yang sudah dilakukan dengan kolaborasi DUDI menghadirkan fasilitas-fasilitas pembelajaran bagi SMK, serta mendukung para pimpinan SMK agar terus belajar bersama, meningkatkan inovasi, dan menghadirkan gebrakan baru dalam setiap langkah pengembangan sekolahnya. Pada kunjungan ke SMK CoE ini, Dirjen Wikan didampingi oleh pimpinan SMKN 2 Gunung Kidul dan Kepala Bidang Dikmen Dinas Dikpora DIY. (Diksi/AP/AS)

Komentar ( 0 )
Beri Komentar

01.