Vokasi Sebagai Strategi Penguatan Ekonomi Negara

Jakarta, Ditjen Diksi - Merujuk amanat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 mengenai revitalisasi pendidikan vokasi, kemitraan antara lembaga pendidikan vokasi dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) memerlukan sebuah wadah yang mampu menjembatani dan menyelaraskan kembali keinginan dan tujuan dunia industri dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Vokasi (Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menginisiasi pembentukan Forum Pengarah Vokasi (FPV) sebagai “Rumah Vokasi” yang akan duduk bersama mewujudkan terjadinya “link and match” yang berkesinambungan antara lembaga pendidikan dengan DUDI.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah sendiri bakal menggelontorkan dana Rp3,5 triliun guna mewujudkan program “link and match” tersebut. Melalui program inilah diharapkan masyarakat, utamanya calon peserta didik, dapat lebih memahami vokasi sebagai pilihan pendidikan untuk masa depan.

“Rumah Vokasi akan menjadi semacam ‘penghulu’ untuk ‘pernikahan massal’, mulai dari membuat rumusan kebijakan, strategi dan program, sampai mencarikan ‘jodoh’ dengan memberikan rekomendasi kepada industri,” jelas Direktur Jenderal Diksi Wikan Sakarinto pada acara “Bincang Kita” yang tayang di Kompas TV pada Rabu (22/07).

Saat ini FPV diketahui memiliki 39 anggota dari kalangan industri. Adapun keanggotaannya bersifat spesifik sesuai dengan bidang prioritas dan telah memiliki kerja sama sebelumnya dengan lembaga pendidikan vokasi.

“Ada tiga kriteria untuk menjadi anggota. Yakni, harus dari industri dan merupakan decision maker. Kemudian harus memahami kompetensi kebidangan, dan yang terpenting harus passion dalam dunia pendidikan,” terang Wikan.

Sementara itu Anton Joenoes Supit selaku Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial menyatakan, dirinya sangat menyetujui pembentukan Rumah Vokasi untuk mendukung rencana penguatan bidang vokasi di Indonesia. “Kita membutuhkan wadah di mana kita duduk bersama dalam satu rumah.  Apa kebutuhan industri, itu yang kita didik, jangan menyiapkan yang tidak dibutuhkan,” paparnya.

Anton menambahkan, vokasi memiliki dua pilar yang tidak bisa digoyahkan, yaitu pendidikan dan pelatihan.  Ia pun mempercayai, jika didukung dengan sistem “link and match” yang berhasil, akan menjadikan vokasi sebagai salah satu strategi ekonomi Indonesia di masa depan.  “Negara-negara maju itu karena menjadikan vokasi sebagai strategi ekonomi negaranya. Itu membuat daya tahan ekonomi itu kuat,” tutur Anton.

Senada dengan Anton, GM Kawasan Industri MM 2001 Darwoto berkeyakinan vokasi akan terus tumbuh di negeri ini. Hal tersebut didasarkan atas pengalaman berjalannnya “link and match” pendidikan dengan kawasan industri.  Baginya, perkembangan kurikulum sebagai salah satu langkah menyesuaikan kebutuhan industri adalah hal yang sangat penting, mengingat dunia industri akan terus berubah seiring dengan berkembangnya teknologi. “Industri tumbuh harus dibarengi dengan lulusan yang sesuai,” ungkapnya.

Ditambah lagi, kesuksesan dalam mengelola lembaga pendidikan yang mampu menyediakan lulusan yang 100 persen terserap oleh dunia industri ini, akan menjadikan tolak ukur bagi seluruh lembaga pendidikan kejuruan ke depannya. “Kita kan sudah menjalankan (“link and match”, red). Harapan saya adalah duplikasi paling awal di setiap kawasan indusrti di Indonesia,” ujarnya.

Dirjen Wikan pun menjelaskan, ada 3 hal yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan “link and match” sebagai peningkatan mutu pendidikan vokasi, yaitu tingkat keterserapan SDM oleh dunia industri minimal 80 persen, hasil research terapan yang dapat mengurangi daya impor Indonesia, dan tentunya menciptakan lulusan yang bahagia dan sejahtera. “Saya yakin kalau ‘link and match’ tahapannya dilakukan seluruhnya akan membuat lulusan semakin cocok dengan dunia industri,” pungkasnya. (Diksi/TM/AP/AS)